Thursday, August 30, 2018

Royal Golden Eagle Menyiapkan Kebutuhan Petani Kelapa Sawit

            Kemitraan dengan petani kelapa sawit menjadi bagian dari operasional Royal Golden Eagle (RGE). Mereka siap mendukung segala kebutuhan petani yang dipandang sebagai mitra strategis.

            Selama ini, operasional RGE selalu berkaitan erat dengan para petani. Hal itu tidak lepas dari bidang bisnis yang digeluti. Berdiri dengan nama Raja Garuda Mas pada 1973, Royal Golden Eagle merupakan korporasi yang berkecimpung dalam industri pemanfaatan sumber daya alam.

            Melalui anak-anak perusahaannya, RGE bergelut di berbagai industri berbeda. Mereka ada yang bergerak di industri kelapa sawit, selulosa spesial, pulp dan kertas, minyak dan gas, serta serat viscose.

            Bidang industri tersebut selalu berkaitan erat dengan petani, khususnya industri kelapa sawit. Salah satu anak perusahaan Royal Golden Eagle yang bergerak di sektor tersebut adalah Asian Agri. Mereka yang konsisten menjalin kemitraan dengan para petani kelapa sawit sejak dulu hingga sekarang.

            Kemitraan yang dijalankan pun bersifat saling menguntungkan. Asian Agri siap mendukung segala kebutuhan petani untuk meningkatkan hasil perkebunan ataupun meningkatkan kualitas hidup.

            Kerja sama dengan para petani sudah dijalankan oleh Asian Agri pada masa-masa awal kehadiran mereka. Berdiri pada 1979, delapan tahun berselang mereka telah merintis kemitraan dengan petani kelapa sawit dengan mengikuti program Perkebunan Inti Rakyat (PIR) - Trans yang diadakan di Provinsi Jambi dan Riau.

            Pada era 1980-an, Pemerintah Indonesia berusaha memeratakan populasi penduduk. Mereka menggagas program transmigrasi dengan memindahkan penduduk dari Pulau Jawa ke Pulau Sumatra dan Kalimantan.

            Ketika itu, Pemerintah Indonesia mengundang pihak swasta untuk ikut berperan serta melancarkan program. Mereka mengajak agar perusahaan besar bisa bekerja sama dengan para transmigran.

            Ajakan ini disambut baik oleh Asian Agri. Jadilah mereka ikut berpartisipasi dalam program PIR Trans sejak 1987. Anak perusahaan Royal Golden Eagle ini bahkan tercatat sebagai salah satu pionir penerapannya di Indonesia.

            Konsep PIR Trans menempatkan Asian Agri sebagai inti dan para petani kelapa sawit sebagai plasma. Sebagai perusahaan inti, unit bisnis RGE ini berkewajiban mendukung perkembangan petani yang menjadi plasmanya.

            Bentuk dukungan beragam. Satu hal yang mendasar Asian Agri harus siap membangun pabrik yang berguna menampung dan mengolah hasil perkebunan para petani. Ini pun disambut baik dengan pembangunan pabrik di Provinsi Riau dan Jambi.
            Perlu diketahui, dalam program PIR Trans, pemerintah memberi modal hidup kepada para transmigran. Mereka dibekali tanah seluas dua hektare serta sebidang rumah. Dalam beberapa tahun, kebutuhan hidup pun mereka sediakan.

            Oleh para transmigran, lahan tersebut mereka olah menjadi perkebunan. Saat bergabung menjadi petani plasma Asian Agri, mereka kemudian menanaminya dengan kelapa sawit.

            Namun, bagi banyak transmigran, berkebun kelapa sawit merupakan pengalaman baru. Oleh karena itu, peran pihak inti seperti Asian Agri sangat vital. Mereka mendukung perkembangan petani dengan menyediakan pendampingan pengelolaan perkebunan kelapa sawit.

            Pendampingan yang diberikan dimulai dari awal sejak pengolahan lahan menjadi perkebunan. Setelah siap, bibit pun disediakan. Begitu pula dengan pupuk ataupun pestisida yang dibutuhkan.

            Asian Agri sampai menyiapkan tim khusus untuk membantu para petani plasma. Mereka memiliki tim dengan struktur lengkap mulai dari General Manager, Manager, hingga Asisten Manajer. Mereka memiliki kompetensi untuk membantu pengembangan perkebunan kelapa sawit.

            Sehari-hari mereka akhirnya turun ke lapangan memberikan bantuan teknis dan pelatihan langsung kepada petani plasma. Pelatihan yang diberikan bukan hanya mengenai metode untuk memaksimalkan produksi, namun juga mengenai pengelolaan kebun secara lestari. Di dalamnya termasuk melakukan perlindungan area-area yang bernilai konservasi tinggi, pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan, pemakaian pupuk organik dan sebagainya.

MENDUKUNG PENGEMBANGAN PENGHIDUPAN

Image Source: Asianagri.com
http://www.asianagri.com/images/articles/penciptaan-nilai-bersama/Cow_Husbandry_3.JPG

            Dalam memberikan dukungan bagi para petani kelapa sawit, Asian Agri melakukannya secara total. Mereka mempersiapkannya dari awal hingga akhir. Terlihat dari kerja sama model inti plasma yang mereka jalankan dengan para petani kelapa sawit.
            Sebagai inti, Asian Agri bersiap menampung hasil panen para petani plasma. Mereka membelinya dengan harga yang sesuai standar yang ditetapkan oleh pemerintah. Dengan sistem ini, petani mendapat kepastian sumber penghidupan.

            Bukan hanya itu, anak perusahaan Royal Golden Eagle ini juga membantu mengembangkan infrastruktur yang dibutuhkan para petani. Sebagai contoh adalah pembuatan jalan. Sarana ini diperlukan oleh petani untuk mengangkut hasil perkebunannya.
            Selain berkaitan dengan kelapa sawit, Asian Agri juga menggulirkan program lain untuk mengembangkan kehidupan petani. Mereka menjalankan beragam kegiatan untuk membuat para petani memiliki sumber penghidupan alternatif.

            Hal yang dijalankan dimulai dari Trainer of Trainee (TOT). Melalui kegiatan ini, Asian Agri berusaha menemukan potensi para petani yang berfokus pada bidang agribisnis. Mereka menyelenggarakan pelatihan yang berkaitan dengan hortikultura, peternakan sapi, unggas, lele, dan ikan nila.

            Khusus untuk peternakan sapi, anak perusahaan Royal Golden Eagle ini memiliki program yang disinergikan dengan kelapa sawit. Itu adalah SISKA yang merupakankan kependekan dari Sistem Integrasi Sapi Kelapa Sawit.

            Melalui program SISKA, Asian Agri mendorong petani untuk mampu memanfaatkan hasil perkebunan kelapa sawit untuk peternakan sapi. Contohnya dengan menggunakan hasil sampingan atau limbah kelapa sawit berupa pelepah daun sawit, lumpur sawit, serat perasan buah, serta bungkil sawit dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

            Selain itu, Asian Agri mengajari petani untuk memanfaatkan kotoran sapi sebagai biogas. Kotoran sapi dapat dijadikan sebagai bahan bakar untuk keperluan rumah tangga dan pupuk kandang untuk tanaman kelapa sawit petani. Anak perusahaan RGE ini tidak hanya melatih. Mereka juga memberi dukungan lain dengan menyediakan digester, selang dan plastik penampung.

            Terkait peternakan, Asian Agri juga mendorong petani untuk mau beternak ikan lele. Para petani kelapa sawit di Desa Batu Anam di Riau misalnya. Sejak 2013, mereka mulai menernakkan lele. Hasilnya, mereka kini mampu menjadi peternak lele yang sukses dengan hasil yang mencukupi untuk menambah penghasilan.

            Hingga kini, unit bisnis bagian dari Royal Golden Eagle ini sudah menjalin kerja sama dengan para petani plasma yang mencakup lahan seluas 60 ribu hektare, Tidak kurang dari 30 ribu keluarga di dalamnya. Mereka tersebar di sebelas perkebunan di Riau dan Jambi.

            Namun, kini Asian Agri berniat memperluas cakupan dukungan ke petani kelapa sawit swadaya. Konsep inti-swadaya pun telah disiapkan. Per 2018, anak perusahaan Royal Golden Eagle ini menargetkan kemitraan dengan petani swadaya mencapai lahan seluas 40 ribu hektare. Jumlah itu bakal ditingkatkan menjadi 60 ribu hektare pada 2020 nanti.
            Sejumlah langkah ini memperlihatkan keseriusan Royal Golden Eagle dalam mendukung para petani. Mereka menjalin kemitraan dengan para petani kelapa sawit yang bermanfaat besar. Dengan kerja sama itu, RGE bisa mendukung para petani secara total dalam meningkatkan kualitas hidupnya.

No comments:

Post a Comment